Tahukah Anda? Penduduk Hong Kong Menjuluki Natal Tahun 1941 Sebagai Hari Natal Hitam

Tahukah Anda? Penduduk Hong Kong Menjuluki Natal Tahun 1941 Sebagai Hari Natal Hitam

Hong Kong pernah dijajah oleh negara Britania Raya, maka penduduk Hong Kong sampai saat ini masih mementingkan perayaan Natal.  Dalam sejarah Hong Kong terdapat sebuah hari Natal pada tahun 1941 yang dijuluki oleh penduduk Hong Kong sebagai Black Christmas 黑色聖誕 (hak1 sik1 sing3 daan3) dengan arti kurang lebih hari Natal yang penuh dengan kegelapan.  Hal ini disebabkan karena tentara Britania Raya di Hong Kong resmi menyerah terhadap tentara Jepang pada tanggal 25 Desember 1941 dan pada waktu yang bersamaan penjajahan Jepang terhadap Hong Kong dimulai.

Pemerintah Inggris meremehkan kekuatan tentara Jepang

Tentara Jepang pada bulan Juli 1937 memulai menyerang negara China, namun pada waktu itu Hong Kong ada dalam jajahan negara Britania Raya, meskipun Hong Kong sangat dekat dengan medan peperangan ini, Perdana Menteri Britania Raya Winston Churchill memutuskan tidak mengirim lebih banyak tentara ke Hong Kong untuk menghindari kerugian dalam kekuatan militer Britania Raya.  Dia beranggapan bahwa jika Jepang menyerang, Hong Kong pasti akan kalah, namun dia mengizinkan mengirim tentara dari Kanada sebanyak 1975 orang untuk membantu tentara Britania Raya di Hong Kong dalam persiapan melawan kemungkinan serangan dari Jepang.  Tentara Britania di Hong Kong pada waktu itu hanya berjumlah 11000 orang dan 1387 tentara yang berasal dari orang lokal.

Gubernur Hong Kong meremehkan kekuatan tentara Jepang

Pada waktu itu Hong Kong dipimpin oleh seorang Gubernur baru bernama Sir Mark Aitchison Young yang menjabat mulai tanggal 10 September 1941.  Pada waktu itu tidak ada yang menduga 3 bulan kemudian tentara Jepang akan menyerang Hong Kong dan berdasarkan informasi inteligen Britania Raya bahwa Jepang tidak akan menyerang Hong Kong sebelum musim panas tahun 1942.  Pertahanan di Hong Kong sangat tipis pada waktu itu.  Pemerintah Hong Kong pada waktu itu juga menjamin kepada masyarakat Hong Kong bahwa Hong Kong memiliki benteng pertahanan yang kuat jika tentara Jepang menyerang Hong Kong.

Gubernur Hong Kong Ke-21 Sir Mark Aitchison Young (1 Mei 1946 - 17 Mei 1947)

Tentara Britania Raya di Hong Kong menyerah hanya dalam waktu sekitar setengah bulan

Pada tanggal 8 Desember 1941, tentara Jepang dengan tidak ada pemberitahuan menyerang markas tentara Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii.  Beberapa jam kemudian Jepang juga mulai menyerang Hong Kong dengan kekuatan lengkap dari darat, laut dan udara.

Pada pagi hari pukul 08.00 angkatan udara Jepang menyerang bandara Kai Tak Hong Kong dan semua pesawat tempur Britania hancur seketika.  Kemudian angkatan darat Jepang mengalahkan tentara Britania Raya di Kwai Chung dan Golden Hill di Sha Tin.  Tidak lama kemudian seluruh New Territories dan Kowloon dikuasai oleh tentara Jepang.  Hal ini menyebabkan garis pertahanan tentara Britania Raya terus bergeser ke selatan sampai dengan Hong Kong Island.

Kemudian tentara Jepang mengirim utusan ke Hong Kong Island menemui Gubernur Hong Kong untuk memintanya menyerah.  Permintaan tersebut ditolak oleh Gubernur Hong Kong.  Pada tanggal 17 Desember 1941 tentara Jepang untuk kedua kalinya meminta Gubernur Hong Kong menyerah dan dia tetap menolak permintaan tersebut, maka tentara Jepang langsung menyeberang dari Kowloon dan menuju daerah North Point, Taikoo Dockyard dan Aldrich Bay di Shau Kei Wan kemudian mulai memerangi Hong Kong Island.

Pada tanggal 21 Desember 1941 Perdana Menteri Britania Raya Winston Churchill tetap meminta tentara Britania Raya di Hong Kong untuk tidak menyerah, namun kenyataannya tentara Britania Raya tidak lagi sanggup melawan serangan dari tentara Jepang.

Tentara Jepang menyerbu daerah Tsim Sha Tsui pada pagi hari tanggal 12 Desember 1941.
Angkatan udara Jepang sedang menyerang daerah Central, Hong Kong Island.
Foto ketika tentara Jepang memasuki wilayah Hong Kong Island pada tanggal 18 Desember 1941.
Letnan jenderal tentara Jepang Takashi Sakai (kiri) bersama komandan angkatan laut Jepang Masaichi Niimi (kanan) ketika mendarat di Taikoo Dock. Mereka bersama menjadi Gubernur Hong Kong pertama setelah Hong Kong dijajah oleh Jepang pada tahun 1941. Takashi Sakai tertangkap di Daratan China pada tanggal 27 Agustus 1946 dan divonis hukuman mati dengan tuduhan memperbolehkan tentara-tentaranya membunuh rakyat biasa dan memperkosa perawat-perawat wanita di rumah sakit ketika ia menjabat sebagai Gubernur Hong Kong.  Takashi Sakai ditembak mati pada tanggal 30 September 1946 di kota Nanjing.

Gubernur Hong Kong menyerah pada tanggal 25 Desember 1941

Pagi tanggal 25 Desember 1941, Gubernur Hong Kong mengeluarkan pengumuman hari Natal dan meminta tentara Britania Raya tetap melawan serangan tentara Jepang.  Tidak lama kemudian pada pukul 15.00 Gubernur Hong Kong memutuskan untuk menyerah kemudian dia menjadi tahanan di pusat karantina milik tentara Jepang di Daratan China sampai dengan bulan Agustus 1945.  Selama menjadi tawanan, Gubernur Hong Kong Sir Mark Aitchison Young terus menerus dianiaya oleh tentara Jepang dan dimasukkan ke dalam sel tahanan kecil yang terbuat dari bamboo.

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir pada tahun 1945 dan Jepang menyerah, banyak yang menduga Sir Mark Aitchison telah meninggal dunia, namun pada akhirnya ia ditemukan oleh tentara Soviet di China bagian timur laut kemudian kembali ke Hong Kong meneruskan jabatannya sebagai Gubernur Hong Kong pada tanggal 1 Mei 1946.

Tentara Britania Raya sedang menandatangani surat penyerahan diri kepada tentara Jepang pada malam hari tanggal 25 Desember 1941.
Upacara di daerah Central menyambut Sir Mark Aitchison kembali menjabat menjadi Gubernur Hong Kong pada tanggal 1 Mei 1946.
Tentang Penulis: #38 Dipandang Rendah Oleh Saudara...
Suhu Beberapa Daerah Di Hong Kong Akan Turun Menja...